Pembelajaran Teknologi untuk Orang Dewasa (Andragogi VS Pedagogi)


Andragogi untuk mengajarkan teknologi pada orang dewasa

Salam perubahan! Dear pembaca blog Indiebrainer tercinta, hadirnya artikel ini dilatar belakangi karena ternyata masih banyak dari kita yang belum mampu untuk membedakan tentang bagaimana pola pengajaran bagi anak-anak dan bagi orang dewasa. Masih banyak dari kita yang mengajarkan materi pelajaran khususnya tentang keterampilan teknologi kepada orang dewasa (siswa SMA, mahasiswa maupun guru/dosen) dengan cara seperti halnya mengajar anak-anak, tidak seperti mengajar orang dewasa.

Apa yang membedakan antara pedagogi dengan andragogi? Kenapa sebaiknya paradigma pendidikan harus berubah dari pedagogi ke andragogi? Mahasiswa sering menanyakan hal ini, dan penting sekali basic pemahaman tentang hal ini diberikan kepada mereka. Mari kita lihat perbedaan mendasar dari kedua paradigma pendidikan tersebut, serta bagaimana penerapannya ketika kita melatihkan teknologi di dalam kelas.

Pertama, kita lihat dari sisi siswa atau pelajar; dalam pedagogi, siswa sangat tergantung pada guru. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Gurulah yang mengevaluasi hasil belajar. Sementara dalam andragogi, siswa adalah mandiri (dialah yang mengarahkan dirinya untuk belajar apa dan bagaimana). Jadi, dialah yang bertanggung jawab atas belajarnya sendiri bukan guru, guru hanya sebatas fasilitator. Begitu pula dengan evaluasi, siswa penting sekali diberikan peluang yang cukup besar untuk melakukan evaluasi diri (self-assessment).

Kedua, kita lihat dari sisi peran pengalaman siswa atau pelajar; dalam pedagogi, pengalaman guru yang lebih dominan. Siswa mengikuti aktifitas belajar, dimana ia sendiri tidak banyak mengalami sesuatu, kecuali sebagai peserta pasif. Sedangkan dalam andragogi, pelajar mengalami sesuatu secara leluasa. Pengalaman menjadi sumber utama mengidnetifikasi penguasaan dirinya akan sesuatu. Satu sama lain saling berperan sebagai sumber belajar.

Guru memproduksi video pembelajaran

Ketiga, kita lihat dari sisi orientasi terhadap belajar; dalam pedagogi, dalam pedagogi pembelajaran dianggap sebagai proses perolehan suatu pengetahuan (mata ajar) yang telah ditentukan sebelumnya. Materi ajar telah diourutkan secara sistematis dan logis sesuai dengan topik-topik mata ajar. Sedangkan dalam andragogi sebaliknya. Pelajar harus memiliki keinginan untuk menguasai suatu pengetahuan/keterampilan tertentu, atau pemecahan masalah tertentu yang dapat membuat ia sendiri puas. Pelajaran harus relevan dengan kebutuhan tugas nyata pemelajar itu sendiri. Mata ajar didasarkan atas situasi pekerjaan atau kebutuhan real pelajar, bukan berdasarkan topik-topik tertentu yang sudah ditentukan.

Keempat, kita lihat dari sisi motivasip belajar; dalam pedagogi, motivasi datang secara eksternal, artinya disuruh atau dipaksa atau diwajibkan atau dituntut untuk mengikuti suatu pendidikan tertentu. dalam andragogi, motivasi lebih bersifat internal, datang dari diri sendiri sebagai wujud dari aktualisasi diri, penghargaan diri dan lain-lain. Begitulah karakteristik andragogi menurut Malcom Knowles (1984), dalam bukunya, “Self-directed Learning”. Andragogi memang merupakan teori orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa harus diajar dengan pendekatan andragogi seperti dijelaskan di atas.

Sebelumnya, pada tahun 1970 Knowles membedakan cara mengajar kepada anak yang disebut pedagogi dengan cara mengajar kepada orang dewasa yang dinamakan andragogi. Knowles berkeyakinan bahwa cara orang dewasa belajar sangat berbeda dengan cara anak belajar. Menurut Knowles, pedagogi berasal dari istilah Yunani paid (anak) dan agogus (membimbing); sementara andragogi dari istilah Yunani aner, andr (orang dewasa) dan agogus( pembimbing). Pedagogy means specifically ”the art and science of teaching children” while andragogy “is the art and science of helping adults learn.” (1970:37,38). Dalam pemahaman Knowles, untuk membina peserta didik dewasa cara mengajar untuk anak tidak berlaku lagi, atau haruslah ditinggalkan. Sebenarnya Knowles mengembangkan konsep belajar orang dewasa yang sebelumnya dibangun oleh Edward Lindeman (1885-1953) dalam karyanya The Meaning of Adult Learning.

Akan tetapi di tahun 1980 Knowles merubah pemahamannya bahwa pedagogi dan andragogi tidak harus dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam pendidikan orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa menurut Knowles bahkan dapat bertolak dari pedagogi kepada andragogi.

Sebenarnya konsep diatas tidak hanya dapat diterapkan pada orang dewasa saja, namun metode pembelajaran yang demokratis seperti diatas dapat diterapkan pada siapa saja untuk membawa perubahan paradigma pendidikan saat ini yang masih banyak menerapkan teacher centered learning daripada student centered learning.

Guru tengah membuat kabel untuk membangun jaringan lokal (LAN)

Begitu pula untuk pengajaran keterampilan teknologi kepada orang dewasa. Penulis memiliki pengalaman khusus mengenai hal ini, ketika menyusun modul pelatihan teknologi untuk pelatihan Pemanfaatan dan Perawatan ICT, yang menjadi program pelatihan DBE2-USAID Indonesia. Dalam pelatihan ini kami melatihkan bagaimana melakukan perawatan terhadap komputer, membuat video pembelajaran memanfaatakan komputer dan camcorder, serta keterampilan instalasi jaringan lokal dan pemanfaatan Internet. Dalam pelatihan tersebut para guru Sekolah Dasar, sengaja diceburkan dalam sebuah kondisi dimana mereka harus “berbuat” dan “bekerja” karena orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula, dan makin efektif lagi kalau dapat juga mengerjakan.

Mereka akan belajar langsung dari kesalahan dan permasalahan yang ditemui ketika mengerjakan tugas, tanpa harus diberikan ceramah panjang lebar. Dalam pelatihan, mereka bekerja berdasarkan lembar instruksi dan lembar kerja yang diberikan. Mereka diwajibkan untuk menyelesaikan setiap tugas yang ada pada lembar-lembar tersebut. Dalam mengerjakan tugas, peserta didik diberikan beberapa sumber belajar berupa buku, video dan software untuk membantunya mengatasi permasalahan dan menjawab setiap pertanyaan.

Ketika mereka mengerjakan tugas, fasilitator selalu mendampingi mereka dan selalu siap sedia menjawab pertanyaan seputar apa yang tengah mereka kerjakan. Peserta, dengan bekerja dalam kelompok akan leluasa untuk belajar dan bertanya kepada rekan sejawatnya, yaitu peserta lain yang memiliki kemampuan dan keterampilan lebih. Setelah proses pekerjaan selesai, maka dilakukanlah tanya jawab, diskusi dan refleksi untuk memberi kesempatan berbagi pengetahuan, berpendapat, dan memberikan penguatan teori terhadap materi yang disampaikan sehingga tercapailah tujuan pembelajaran.

Diluar dugaan, ternyata banyak guru wanita yang sudah berumur, yang sebelumnya merasa minder karena memiliki keterampilan teknologi yang kurang, setelah mengikuti sesi pelatihan yang ada, ternyata telah mampu untuk melakukannya sendiri berbekal keberanian yang disuntikkan oleh rekan sejawat dan fasilitator. Hanya dengan berbagai instruksi dan sumber belajar, ternyata mereka sekarang mampu untuk melakukan perawatan dan troubleshooting pada komputer yang mereka miliki, memproduksi video pembelajaran sendiri dan mampu melakukan instalasi jaringan lokal. Disinilah, para fasilitator dituntut untuk tidak mengecilkan semangat mereka, dan tidak menganggap mereka belum memiliki pengetahuan apa-apa alias nol. Justru menjadi tugas fasilitator untuk menggarap keterampilan yang telah mereka miliki untuk dapat disejajarkan dengan peserta didik yang lain dan ditingkatkan lagi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari berbagai sumber

Ditandai:, , , , ,

8 gagasan untuk “Pembelajaran Teknologi untuk Orang Dewasa (Andragogi VS Pedagogi)

  1. amadnoy Januari 14, 2010 pukul 12:02 am Reply

    Selamat ya mas atas keberhasilannya mendapatkan penghargaan ISBA

  2. Gora Januari 14, 2010 pukul 10:20 am Reply

    Terima kasih!

  3. jendelakatatiti Januari 14, 2010 pukul 6:47 pm Reply

    Terima kasih Bung, tulisannya ttg pedagogi dan andragogi bermanfaat untuk saya, thanks a lot! jendelakatatiti.wordpress.com

  4. Gora Januari 15, 2010 pukul 8:05 am Reply

    Sama-sama. Thanks!

  5. chosyi muhammad Januari 15, 2010 pukul 3:05 pm Reply

    klo game andragogy udah ada belum ya pak..?? apa bedanya pedagogy game dengan edugame?

  6. cobaberbagi Maret 2, 2010 pukul 3:16 pm Reply

    Tulisan yang bermanfaat pak
    salam kenal

  7. Stanley S. Mei 11, 2010 pukul 8:28 am Reply

    Bravo… tulisan ini sangat bermanfaat bagi saya.

  8. Ananto Desember 6, 2010 pukul 12:00 pm Reply

    Thanks a lot…tulisannya bagus, sgt bermanfaat…kebetulan saya lagi nyari cara yg tepat utk ngajar teman2 guru dlm bid ICT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 674 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: